Beranda > STL > Pengaturan Frekuensi Sistem Tenaga Listrik

Pengaturan Frekuensi Sistem Tenaga Listrik

Salah satu karakteristik pada sistem tenaga listrik yang sangat penting untuk dijaga kestabilannya adalah frekuensi. Pentingnya menjaga frekuensi berkaitan erat dengan upaya untuk menyediakan sumber energi yang berkualitas bagi konsumen. Pasokan energi dengan frekuensi yang berkualitas baik akan menhindarkan peralatan konsumen dari kerusakan (umumnya alat hanya dirancang untuk dapat bekerja secara optimal pada batasan frekuensi tertentu saja – 50 s.d 60 Hz).

Pengendalian frekuensi tidak semata untuk memuaskan pelanggan semata, tindakan ini juga bertujuan untuk menjaga kestabilan sistem. Bagaimanakah hubungan antara frekuensi dan kestabilan sistem? Beberapa baris tulisan berikut mungkin dapat menjelaskan hal ini.

Pertama kita lihat hubungan antara torsi mekanik (Tm), torsi elektrik (Te), jumlah total moment inersia dari rotor (J), dan percepatan angular dari rotor

Dari rumus diatas terlihat bahwa ketika :

  • Torsi mekanik = torsi elektrik maka Ta=0 yang berarti pula tidak ada percepatan yang dialami oleh rotor. Karena tidak ada percepatan, maka rotor berputar pada kecepatan yang tetap sehingga mengahasilkan tegangan dengan frekuensi yang konstan. Keadaan ini terjadi ketika tercapai keseimbangan antara jumlah energi yang dibangkitkan dengan energi yang diserap beban
  • Tm > Te maka tercipta kelebihan torsi sebesar Ta yang menyebabkan timbulnya percepatan rotor sebesar d2O/dt2sehingga frekuensi tegangan yang dibangkitkan naik sampai tercapai nilai tertentu dan tercipta keseimbangan baru antara Tm dan Te.
  • Tm < Te maka tercipta kekurangan torsi sebesar Ta yang menyebabkan timbulnya perlambatan rotor sebesar d2O/dt2sehingga frekuensi tegangan yang dibangkitkan turun sampai tercapai nilai tertentu di titik B dan tercipta keseimbangan baru antara Tm dan Te.

    Ilustrasi gambar dibawah menunjukan bahwa ketidakseimbangan antara pembangkitan dan beban akan menyebabkan frekuensi bergeser dari nilai normalnya. Dalam hal ini ketika Pembangkitan > beban maka frekuensi sistem akan > 50 Hz, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu perlu selalu dijaga keadaan yang seimbang antara pembangkitan dan beban agar tercipta frekuensi sitem yang normal 50 Hz.

    Penanganan ketika tejadi keadaan dimana frekuensi < 50 Hz dapat dilakukan dengan cara:

  • menambahkan jumlah total energi yang di suplai ke sistem melalui cara menambah unit pembangkit yang bekerja.
  • Memanfaatkan fasilitas LFC (load Frequency Control)/AGC yang mengendalikan putaran generator sesuai dengan fluktuasi beban. Ketika beban besar makan AGC akan memberikan bahan bakar lebih banyak agar unit pembangkit dapat membangkitkan energi sesuai yang dibutuhkab oleh beban
  • Apabila unit pembangkit sudah beroperasi maksimal, maka dengan terpaksa harus dilakukan pengurangan beban melalui manual load shedding (pembuangan beban) ataupun melaui relai UFR yang bekerja ketika frekuensi sistem berada dibawah nilai settingnya.

Pustaka :

Elements of Power System Analysis

Artkel lain? kunjungi student.te.ugm.ac.id/~budis02

  1. Okky
    Februari 23, 2012 pada 10:08 am | #1

    Mas.. Boleh minta artikel2 tentang LFC g?? Kebetulan saya gy ambil tugas akhir tentang ini.. Klo ada minta tolong dikirim ke email y di Okky0912@yahoo.com

    Makasih mas sebelumnya..

  2. iryne
    Maret 2, 2011 pada 4:57 pm | #2

    kak,kalo frekuensinya >50 Hz harus gimana nanganinnya? makasih kak.

  3. dika prima
    Januari 27, 2011 pada 10:52 am | #3

    tolong donk email ke saya tentang artikel lengkap “Load Shedding”

  4. Okky
    Desember 1, 2010 pada 11:59 am | #4

    Pak.. Ada artikel mengenai LFC?? saya ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang LFC..thanks..

  5. A-B
    Oktober 25, 2010 pada 8:53 am | #5

    gmn klo tiba-tiba beban mengalami penurunan drastiss? otomatis frekuensi akan naik secara seketika, misalkan terganggunya salah satu trafo yg menangani beban bezar. apa yg akan dilakukan, apakah pelepasan pembangkit atau ada cara lain?????

  6. R_J
    Februari 16, 2010 pada 2:13 pm | #6

    saya juga minta tolong kirimkan artikelnya ke email saya :raja.tinjo@yahoo.com
    terimakasih

  7. patra
    April 6, 2009 pada 11:22 am | #7

    ada artikel contoh itungannya gak pak?
    saya mau tahu kira2 sampe seberapa banyak beban yg bisa di handle..trus settingan UFR gmn ya pak?
    terima kasih.

  8. faizal
    Maret 2, 2009 pada 9:21 am | #8

    artikel di student.te.ugm.ac.id/~budis02 ga bs di buka y.
    bisa minta artikel lain ga tentang pengaturan frekuensi sistem tenaga listrik.tq

    • budi54n
      Maret 18, 2009 pada 2:18 am | #9

      ada imel ga? nanti sy kirim aja ke imel..
      trus tentang student.te.ugm.ac.id/~budis02 g tau ni nah hampr dua bulan ni g bisa buka.. jd g bisa upload file de.. :(

  9. budi54n
    April 29, 2008 pada 7:28 am | #10

    Banyak pembangkit yang tidak bisa terkoneksi ke jaringan dalam waktu yg lama jika terjadi penurunan frekuensi sampai di bawah frekuensi kerja generator..

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.